Terjaganya Salat Fardu Santri Daarul Uluum

Rukun Islam yang kedua setelah mengucapkan dua kalimat syahadat adalah salat. Salat pun merupakan tiangnya agama Islam.

Dari Mu’adz bin Jabal, Nabi SAW bersabda:

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Artinya, “Inti segala perkara adalah Islam dan tiangnya yang merupakan shalat.” (HR. Tirmidzi No. 2616 dan Ibnu Majah No. 3973)

Tiang merupakan penopang bagi kokohnya sebuah bangunan. Tanpa tiang sebaik apapun tampilan sebuah bangunan, maka perlahan akan roboh.

Shalat dalam ajaran Islam, bisa dilaksanakan sendirian, juga bisa dilaksanakan secara bersama-sama atau berjamaah, hal ini tercatat di dalan hadits sebagai berikut:

وقال صلى الله عليه وسلم: صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلاَةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً

Nabi saw. bersabda, “Shalat berjamaah lebih utama dari pada shalat sendirian dua puluh tujuh derajat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Malik, Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasai dari sahabat Ibnu Umar r.a.

Shalat berjamaah, khususnya salat zuhur, bagi sebagian orang mungkin bukan perkara yang mudah untuk dilaksanakan setiap waktunya tiba, terutama bagi orang dewasa yang juga pekerja.

Bukan perkara sederhana juga bagi anak-anak sekolah tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat atas. Mengapa demikian? Karena ketika waktu shalat zuhur tiba, anak-anak ini masih berada di sekolah atau bahkan masih berada dalam perjalanan pulang. Mereka akan melaksanakannya di rumah secara individu. Bukan tidak mungkin pula mereka tak melaksanakannya.

Hal itu tak akan terjadi pada santri-santri di Pesantren Daarul Uluum Bogor, baik di kampus 1, Kampus 2, maupun Kampus 3.  Shalat berjamaah para santri terjaga baik dan selalu tepat waktu.

Kenapa bisa demikian? Karna di Pesantren Daarul Uluum, jadwal shalat menjadi jadwal utama dan tetap dalam setiap waktunya. Tak ada kegiatan apa pun yang bisa menghalangi santri untuk salat tepat waktu. Waktu shalat tercatat dalam jadwal kegiatan harian santri. Shalat bagi santri bukan hanya ritual semata tetapi merupakan hal wajib dilaksanakan, dan harus tetap terjaga.

Keterjagaan shalat santri ini bisa kita lihat dalam praktek kesehariannya, setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh santri, baik yang bersifat formal maupun dalam bentuk ekstrakurikuler, selalu berakhir beberapa menit sebelum waktu shalat tiba. Santri akan segera menuju asrama untuk berganti pakaian bersih, bersarung dan berpeci untuk kemudian menuju masjid begitu bel tanda kegiatan berakhir tiba.

Setelah selesai salat, santri pun melanjutkan kegiatan rutin lainnya hingga waktu salat berikutnya tiba.

Jadi, masihkah ragu untuk mendaftarkan anak ke pesantren yang amat menjaga shalat para santrinya?

 

– – – – – – – – – –

Judul Artikel: Terjaganya Salat Fardu Santri Daarul Uluum

Oleh: Aas Kartini

Pewarta: Aas Kartini

– – – – – – – – – –

www.daarululuum.co.id

www.youtube.com/user/daarululuum

https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/

https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

 

Manajemen Waktu Bagi Santri

Waktu, satu kata yang memiliki kedudukkan begitu berharga dalam Islam. Waktu bahkan dititipkan Allah SWT sebagai firman yang harus dipegang teguh oleh hamba-Nya dalam QS. Al’Ashr (103). Tiga ayat dalam tersebut yang memberitakan tentang betapa meruginya manusia yang lalai dalam mengelola waktu, terutama lalai untuk menggunakan waktunya mengerjakan amal saleh sebagaimana yang diperintahkan Allah SWT. 

Mengapa waktu menjadi begitu pentingnya untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya? Waktu tak akan pernah bisa kembali ataupun berulang mendatangi kita. Tak harus berfikir hari apalagi tahun, bahkan satu detikpun ketika waktu berlalu, waktu bukan milik kita lagi.  

Pesantren Daarul Uluum Bogor amat memahami betapa pentingnya waktu, sehingga para pemangku kebijakan di pesantren menyusun agenda kegiatan berdasarkan waktu untuk digunakan para santri dan santriwati dalam menjalani keseharian mereka selama berada di pesantren untuk menimba ilmu agama maupun ilmu yang umum. 

Para santri sejak pertama kali mendaftarkan diri telah diperkenalkan pada “manajement waktu”, dan harus disetujui tanpa syarat. Pengelolaan waktu tersebut disusun bukan tanpa tujuan atau maksud, pengelolaan waktu tersebut memiliki tujuan agar santri selama bermukim memiliki jadwal tetap untuk dilaksanakan, dipatuhi, dan dijadikan pedoman dalam melaksanakan aneka ragam kegiatan harian yang padat, mulai dari bangun tidur sampai waktu kembali. Semua terjadwal rapi dan ketat. 

Jadwal yang telah disusun ada yang termasuk kategori jadwal wajib, ada yang tidak wajib atau bisa berubah sewaktu dibutuhkan. Jadwal wajib yang tak bisa berubah diantaranya adalah jadwal ibadah shalat fardu, jadwal makan, dan jadwal tidur. Ustadz Fauzi Ba’ats, Pimpinan Pesantren Daarul Uluum, Kampus 1,  sangat menekankan ketiga waktu itu agar tidak diganggu gugat dan harus dijalankan sesuai dengan ketentuan yang telah disusun. 

Jadwal makan tidak boleh digunakan oleh kegiatan lain, sepenting apa pun kegiatan lain itu. Karena makan adalah salah satu pondasi terjaganya kesehatan santri dan santriwati. Demikian pula jadwal tidur malam, tak boleh dikurangi bilangan waktunya, karena tidur malam adalah waktunya santri dan santriwati mengembalikan stamina dan kebugaran yang telah terpakai dalam menjalani aneka kegiatan di pagi sampai malam hari.” Tegas Ustadz Fauzi Ba’ats. Terlebih jadwal ibadah, harus dilakukan sesuai dan tepat waktu karena ibadah adalah kegiatan yang mendekatkan santri dan santriwati pada Sang Khalik. 

Bagaimana Pesantren Daarul Uluum menjaga waktu-waktu  kegiatan yang telah disusun agar berjalan disiplin? Daarul Uluum menunjuk para ustadz dan ustadzah untuk  piket secara bergantian setiap harinya. Petugas piket diharuskan mengingatkan pergantian kegiatan demi kegiatan dengan membunyikan bel dan membacakan pengumuman melalui pengeras suara agar santri segera mengakhiri kegiatan yang sedang dilakukan dan bersiap untuk melakukan kegiatan berikutnya. 

Semua dilakukan karena Pesantren Daarul Uluum amat memahami begitu pentingnya waktu, dan menyadari waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali lagi.

 

– – – – – – – – – –
Judul Artikel: Management Waktu Bagi Santri
Oleh: Aas Kartini
Pewarta: Aas Kartini
– – – – – – – – – –
www.daarululuum.co.id
www.youtube.com/user/daarululuum
https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/
https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

Amaliyyah Tadris

Amaliyyah Tadrissalah merupakan salah satu mata ujian kelas akhir di Pesantren Daarul Uluum Bogor, yang yang memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia yaitu “Praktik Mengajar.”

 

Sebelum melaksanakan ujian praktik ini, santri kelas akhir terlebih dahulu harus melewati tahapan pembekalan yang dilaksanakan beberapa waktu sebelumnya, wawasan tentang proses pembelajaran, mulai dari persiapan administratif sampai ke persiapan teknik mengajar. Teknik penguasaan kelas, pemahaman dan penerapan silabus, pemilihan metode mengajar, menyusun Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP), menyiapkan sarana penunjang, dan instrumen penilaian turut menjadi fokus dalam proses pembelakan. Dengan kata lain, santri yang mengikuti ujian Amaliyyah Tadris akan siap menjadi tenaga edukatif saat terjun ke masyarakat kelak atapun ke dunia Pendidikan kelak.

 

Pelaksanaan Ujian Amaliyyah Tadris di Kampus 2 kali ini berbeda seperti biasanya, pada saat pelaksanaan tahun-tahun sebelumnya, praktik mengajar dilaksanakan secara langsung dengan mengajar di kelas 7 atau 8. Namun pada tahun ini, karena situasi pandemi COVID-19 yang belum reda, maka, pelaksanaannyapun di hadapan sesama santri kelas akhir. Hal tersebut tentu saja menjadi lebih menarik karena teman-temannya yang diharapkan menjadi peserta didik selayaknya kelas 7 mengalami kesulitan pada prakteknya. Mereka bersikap sebagaimana keseharian mereka sebagai santri kelas akhir. Hal ini tentu saja menimbulkan keunikan karena pertanyaan yang diajukan kepada santri yang sedang praktik lebih banyak jadi ajang “memperbaiki kesalahan“, yang jauh dari sifat dan sikap peserta didik yang masih duduk di kelas 7. Galak tawapun muncul menjadi warna tersendiri tentunya.  

 

Amaliyyah Tadris di Kampus 2 dilaksanakan selama enam hari berturut-turut, terdiri dari enam sampai delapan jam pelajaran setiap harinya, dengan durasi enam puluh menit pada tiap dua jam pelajaran. Praktik mengajar para santri kelas akhirpun dinilai langsung oleh para supervisor dan guru mata pelajaran terkait. Penilaian yang mencakup persiapan sebelum mengajar secara administratif, penilaian praktek saat proses mengajar berlangsung, serta penilaian saat peserta ujian menutup kegiatan pembelajaran yang menjadi tugasnya. Sesaat setelah parktik mengajar usai, para supervisorpun memberikan ulasan, evaluasi dan kelebihan tersediri masing-masing yang dimiliki oleh peserta ujian. 

 

Harapan dilaksanakannya Amaliyyah Tadris ini tentu saja dalam membekali para santri kelas akhir dalam keterampilan mengajar yang bisa diaplikasikan saat mereka telah berakhir masa pendidikannya di pesantren.

 

 

– – – – – – – – – –
Judul Artikel: Amaliyyah Tadris
Oleh: Aas Kartini
Pewarta: Aas Kartini
– – – – – – – – – –
www.daarululuum.co.id
www.youtube.com/user/daarululuum
https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/
https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

Santri Menulis Puisi

Salah satu kegiatan ekstrakurikuler santri di Pesantren Daarul Uluum Bogor adalah belajar menulis karya sastra, baik berupa puisi, cerpen, novel, kata-kata mutiara, bahkan menyusun cerita bergambar (cergam). Kali ini, akan ditampilkan satu karya sastra santriwati dari N. Huril Aini yang ditulisnya saat workshop menulis yang dilaksanakan sebelum pandemi melanda negeri. Puisi tersebut berjudul “Permatamu”. Sebuah puisi sederhana tetapi tak terlepas dari ciri khas kesantriannya. Dan hal itulah yang menjadikan puisi sederhana tersebut menjadi puisi yang sarat makna.

————————————————

PERMATAMU

(Oleh N. Huril Aini)

Ukhti, wajahmu memancarkan cantikmu.

Ukhti, lisanmu menggambarkan indahmu.

Ukhti, bukan emas permata yang menghiasimu, tapi akhlakmulah yang menjadi pesonamu.

Memang wajahku tak seperti cantikmu, tapi aku menghiasinya dengan wuduku.

Badanku memang tak seberapa indah sepertimu, tapi aku akan memperindahnya dengan menutup auratku.

Bibirku memang tak seseksi bibirmu, tapi aku akan mengharuminya dengan menjaga lisanku.

————————————————

Puisi tersebutpun memiliki keunikan tersendiri antar baitnya. Apakah pembaca bisa menemukan keunikan itu?

 

– – – – – – – – – –
Judul Artikel: Santri Menulis Puisi
Oleh: Aas Kartini
Pewarta: Aas Kartini
– – – – – – – – – –
www.daarululuum.co.id
www.youtube.com/user/daarululuum
https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/
https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

Daarul Uluum Berliterasi

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Literasi adalah kemampuan dan keterampilan individu dalam berbahasa, yang meliputi membaca, menulis dan berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu, yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.”

Sedangkan Literasi menurut Education Divelopment (EDC), “Literasi merupakan kemampuan seseorang dalam memaksimalkan potensi dan keterampilan yang ada di dalam dirinya.” Cakupannya tidak sekedar baca tulis saja, tetapi juga meliputi kemampuan keterampilan yang dimiliki individu tersebut.

Di Pesantren Daarul Uluum Bogor, kegiatan literasi mencakup gabungan dari kedua makna tersebut di atas. Literasi yang bukan hanya keterampilan membaca, dan kemahiran menulis saja, tetapi juga aplikasi dari praktik hasil membaca dan menulis yang dapat menjadi sebuah karya.

Misalnya, literasi dari sudut membaca santri Pesantren Daarul Uluum Bogor Kampus 1, memiliki program Friday With Books. Sebuah kegiatan yang bisa dikatan sebagai program jemput bola, tanpa harus mengunjungi perpustakaan, melainkan perpustakaanlah yang akan mengunjungi para santri dengan berbagai macam koleksi buku bacaan. Program ini bertujuan agar para santri  memiliki jadwal membaca rutin khusus yang menyenangkan di ruang terbuka yang luas.

Harapannya, dengan membaca buku, wawasan keilmuan santri bertambah semakin kaya. Tak hanya terbatas dalam pelajaran kepesantrenan dan formal saja, namum juga keilmuan lain yang berada di sisi luar kegiatan pembelajaran ini yang bisa santri baca dalam buku-buku yang ada di perpustakaan.

Tak kalah penting dari membaca, cabang literasi yang lain adalah menulis. Para santri Pesantren Daarul Uluum Bogor dibiasakan untuk memiliki kemampuan menulis yang baik. Dalam ranah menulis karya fiksi misalnya, tersedia wadah bagi para santri untuk berlatih menulis di dalam kelompok kepenulisan pesantren. Sebuah karya nyata dari para santri telah tertuang di dalam sebuah buku terbitan berjudul Tunas Serat, dan sedang berproses pula penyusunannya buku Tunas Serat 2, yang di dalamnya terkumpul beberapa karya santri berupa puisi, cerita pendek dan cerpen.

Sedangkan untuk karya tulus ilmiah, santri kelas akhir diharuskan menyusun karya ilmiah, yang didasarkan atas hasil penelitian melalui sumber bacaan maupun nara sumber, yang kemudian disusun dalam sebuah karya tulis yang bisa dipertanggunbjawabkan.

Lalu, hasil dari penggabungan kedua definisi di atas, bagi Pesantren Daarul Uluum Bogor, adalah mempraktekkan pengetahuan yang dibaca di dalam buku secara langsung, bersama dan terbimbing.

Laboratorium Literasi Pesantren Daarul Uluum Bogor, melalui para ustadz dan ustadzah mudanya, melatih para santri untuk memproduksi sendiri, misalnya, hand sanitizer dengan bahan yang aman dan bersahabat untuk permukaan kulit tangan, es krim tanpa freezer, olahan keju rumahan, dan yang lainnya, yang bukan merupakan barang pakai. Dan dalam waktu dekat, laboratorium literasi akan melatih santri untuk mengekstrak herbal berupa daun-daun yang bermanfaat untuk pengobatan terapi sederhana.

 

– – – – – – – – – –
Judul Artikel: Daarul Uluum Berliterasi
Oleh: Aas Kartini
Pewarta: Aas Kartini
– – – – – – – – – –
www.daarululuum.co.id
www.youtube.com/user/daarululuum
https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/
https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

Sosok Pendidik dan Tugas Mulianya

Pendidik/guru adalah pewaris.” Demikian yang disampaikan oleh Ustadz Badri Sanusi , dalam sesi pembekalan untuk MGMP Umum di Daarul Uluum Kampus 2 Nagrak, tanggal pada 14 Januari 2021 lalu.

Pendidik/guru sebagai pewaris mengemban tugas yang tak bisa dikatakan sederhana. Tugas guru selain sebagai pembawa amanah ilmu juga bertugas untuk membawa amanah rabbani. Amanah rabbani antara lain, bertugas untuk mendidik, memelihara, mengurus, dan yang paling penting membawa Sifat Ketuhanan. Selain itu, membawa sifat para nabipun menjadi bagian tugas lain dari seorang pendidik/guru.

Di Pesantren Daarul Uluum Bogor, tugas pendidik/guru selain melaksanakan pendidikan, dan syiar, juga melakukan transfer ilmu serta nilai kepada para santri.” lanjut Ustadz Badri Sanusi. Transfer ilmu dan nilai ini diwujudkan dalam proses pembelajaran yang bukan sembarang pembelajaran. Ada tujuan yang menjadi titik bidik yang harus menjadi titik fokus para pendidik di Pesantren Daarul Uluum Bogor, yaitu mengubah perilaku santri menjadi lebih baik sebagaimana yang telah dituangkan dalam Visi, Misi dan Tujuan.

Pencapaian tujuan ini bukanlah hal sederhana dan mudah, akan tetapi tak sulit pula untuk diwujudkan.” Ustadz Badri Sanusi kembali menambahkan. “Ingatlah selalu ada keberkahan di dalam setiap proses belajar mengajar.” Ujar Ustadz Badri saat mengakhiri sesi pembekalan.

Semoga kita semua dikaruniai sikap istikamah dalam menjalankan peran sebagai pendidik. Āmīn yā Allāh.

 

– – – – – – – – – –
Judul Artikel: Sosok Pendidik dan Tugas Mulianya
Oleh: Ustadz Badri Sanusi
Pewarta: Aas Kartini
– – – – – – – – – –
www.daarululuum.co.id
www.youtube.com/user/daarululuum
https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/
https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

HAKIKAT MENGAJAR

Mengajar adalah sebuah proses belajar yang dilakukan oleh seorang pengajar, guru.” Demikian uraian Ustadz Mukholil pada Sesi Sosialisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Umum di Pesantren Daarul Uluum Kampus 2, Bogor. Kalimat sederhana, namun, jika direnungkan mendalam, akan menjadi motivasi yang luar biasa.

Belajar” bagi guru tentu berbeda dengan “belajar” yang dilakukan oleh santri. Belajarnya seorang guru adalah sebuah proses persiapan yang dilakukan secara mendalam melakukan proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)di kelas, agar materi ajar yang akan ditransfer kepada santri menjadi lebih mudah dipahami.

Proses ‘memahamkan’ tidaklah mudah, dibutuhkan strategi agar proses belajar mengajar menjadi menarik.” Ustadz Mukholil menambahkan. Guru ideal bukan hanya pandai bicara, tetapi juga menguasai materi ajar yang akan disampaikan, terlebih, pandai berbuat, “melakukan”.

Pandai “melakukan” dan “berbicara” saja pun tidaklah cukup tanpa strategi, karena “strategi” lebih penting daripada penguasaan materi aja.

Bagaimana jika guru dipandang dari sisi lain yang bersifat non akademis? Personalitas guru jauh lebih penting daripada penguasaan materi, metode dan strategi. Maka, guru pun harus memiliki rasa kasih sayang terhadap santri yang diajarnya.” Ujar Ustadz Mukholil di akhir paparannya.

Guru yang bagaimanakah kita ini? Semoga menjadi guru yang ikhlas dan jauh dari sifat ria.

Āmīn yā Allāh, yā rabbal ‘ālamīn.

 

– – – – – – – – – –
Judul Artikel: Hakikat Mengajar
Oleh: Ustadz Mukholil
Pewarta: Aas Kartini
– – – – – – – – – –

www.daarululuum.co.id

www.youtube.com/user/daarululuum

https://www.facebook.com/daarululuum.co.id/

https://instagram.com/pesantrendaarululuum?igshid=pdeyegelf35b

Pintu-Pintu Kebahagiaan


ABWĀB AS-SA’ĀDAH FĪ ASBĀB ASY-SYAHĀDAH

Pintu-pintu Kebahagiaan:
Tentang Sebab-sebab Kesyahidan

Karya: Al-Imām Jalāluddīn as-Suyūthī.

Disarikan oleh: Al-Ustādz Iqbal Harafa

 

Al-Imām as-Suyūthī, dalam kitabnya ini, menyajikan 67 hadits Nabi saw. yang menerangkan tentang beragam sebab yang akan menyetarakan kematian seorang mukmin sebagai kematian seorang syahid walaupun kematiannya itu tak terjadi di medan perang membela agama Allah.

Benang merah yang dapat saya rentangkan setelah membaca satu persatu semua hadits tersebut adalah: kematian sebagai syahid akan melekat kepada diri setiap mukmin yang meninggal dunia bukan karena “sebab-sebab alamiah”.

Yang saya maksud dengan “sebab-sebab alamiah” adalah menurunnya fungsi sistem tubuh secara keseluruhan karena faktor penuaan sel yang memang secara alamiah tidak akan bisa dihindarkan oleh setiap makhluk hidup.

Sebagaimana telah kita ketahui, penuaan sel secara alamiah, pada waktunya nanti, akan menjadi sebab berhentinya secara total sistem penopang kehidupan setiap makhluk hidup.

Maka, selain karena meninggal dunia di medan peperangan membela agama Allah, akan menjadi syahid pula seorang mukmin yang meninggal dunia karena sebab dibunuh, dianiaya, wabah penyakit, menderita sakit tertentu yang berat, tenggelam, terbakar, tertimpa reruntuhan, terjatuh dari ketingggian, diasingkan, difitnah, kelelahan luar biasa karena perjalanan panjang, ibu yang melahirkan, dan sebab-sebab kematian tak alamiah lainnya.

Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.

Wallāhu ta’ālā a’lamu bish shawāb.

 

TONTON VIDIO:


*Sumber tulisan: https://www.facebook.com/pengelana.semesta.5


 

Sya’ban: Masa Mobilisasi


Sebutan “sya’bān” berhulu ke kata “sya’aba-yasy’abu” yang arti dasarnya adalah “al-jam’” (berhimpun) dan “at-tafrīq” (perpencar). Kedua arti yang saling bertolak belakang ini berkumpul pada satu kata.

Ada dua pendapat tentang sebab penyebutan “sya’bān” sebagai salah satu nama bulan:

Pertama, sebutan “sya’bān” muncul karena suku-suku Arab di masa lalu, di bulan itu, menghimpun diri, lalu pergi menyebar ke berbagai penjuru untuk mencari sumber air. Air, di jazirah Arab yang tandus dan gersang, adalah aset yang teramat berharga.

Kedua, sebutan “sya’bān” muncul karena suku-suku Arab di masa lalu, di bulan itu, menghimpun para anggota suku dan persenjataan yang dimiliki, lalu pergi menyebar ke berbagai penjuru untuk membangun persekutuan dengan suku-suku lain sebagai persiapan mereka menghadapi peperangan.

Walau berbeda, benang merah dari kedua pendapat ini tetaplah sama, yaitu bahwa Sya’bān adalah bulan persiapan.

Benang merah kedua pendapat di atas pun sangat relevan dengan bagaimana Rasulullah saw. menempatkan bulan ini, yaitu bahwa Sya’ban adalah bulan di mana kita diseru untuk mempersiapkan diri, dengan berbagai amaliah, sebelum kita masuk ke bulan Ramadhan, bulan di mana kita akan bergulat menundukkan dan mengendalikan nafsu dan syahwat diri kita sendiri.

Allāhumma, bārik lāna fī rajab, wa sya’bān, wa ballighnå ramadhān, wa hashshil maqāshidanā birahmatika yā arhamar rāhimīn.

Ya Allah…

Berkahilah kami di bulān Rajab dan Sya’bān serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadhān dan wujudkanlah harapan-harapan baik kami.

Dengan rahmat-Mu, ya Allah, Yang Paling Kasih di antara para pelimpah kasih.

Wa shallāllāhu ‘alā sayyidinā muhammadin, wa ‘alā ālihī, wa shahbihī ajma’īn.

Walhamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn.


*Sumber tulisan: http://iqbalharafa.daarululuum.co.id/2018/05/20/syaban-masa-mobilisasi/#more-225


 

Friday Meet Up with Book

Membaca adalah jendela dunia. Membaca adalah membuka cakrawala. 

Itulah selogan yang sudah tidak asing lagi terdengan oleh telinga kita. Sudah tidak asing lagi setiap kali terpampang di hadapan mata kita. Giat membaca yang lumrah ditanamkan di sebuah instansi pendidikan, agar dapat lebih mendorong para pegiat ilmu untuk menambah wawasan yang lebih luas. Belajar lebih mandiri dengan membaca, belajar lebih giat dengan membanca.

Begitupun dengan Pesantren Daarul Uluum, yang memang sedang lebih meningkatkan fokus dalam menumbuhkembangkan minat para santrinya dalam hal giat membaca. Melalui beberapa kegiatan pada beberapa paruh waktu di luar jam kegiatan belajar mengajar formal,  sengaja diselenggarakan secara konsisten, dengan harapan dapat memancing kecintaan santri terhadap membaca,  sepeti kegiatan friday meet up with book, diskusi ilmiah, kelas menulis, bedah buku, workshop menulis dan kelas komikus.

Di antara sederet kegiatan rutin tersebut, friday meet up with book banyak menyedot perhatian para santri. Perhatian untuk melebur dalam kegiatan santai tersebut, maupun perhatian untuk menumbuhkembangkan giat membaca. Kegiatan yang menjadi pelengkap atas keberadaan perpustakaan beserta koleksi buku bacaannya tersebut, sangat meriah dan antusia para santripun sangat besar setiap kali diselenggarakan. 

Kegiatan ini rutin kami selenggarakan tiap hari Jum’at pagi sampai menjelang waktu Zhuhur. Saya bersama kru Bagian Perpustakaan Pesantren lainnya, juga bersama para pengurus Himpunan Santri daarul Uluum Bagian Pengembangan Minat Baca dan Menulis (BPMBM), menyediakan rak-rak berisi buku-buku menarik untuk dibaca. Rak-rak berisi buku tersebut sengaja kami sediakan di tempat-tempat terbuka di area pesantren agar lebih mudah diakses siapapun, kami coba pula menyediakan sudut-sudut baca yang lebih menarik dan santai bagi para santri.” Tutur ustadzah Fitria Anggraini, salah satu Bagian Perpustakaan Pesantren.

 


Daarul Uluum Media Center (DUMC)

Kampus 1 Bantarkemang, Kota Bogor